
Rasanya sulit sekali untuk berpikir positif tentang mereka. Iya, mereka yg ga lain ga bukan adalah teman-temanku. Sudah bertahun-tahun berlalu, tapi bukan berarti semua sudah beda. Mungkin benar berubah to some extent, tapi aku masih mendapati intinya. Inti yang tidak pernah berubah (Sari yg nge-bossy, Budi yg glamour), kebiasaan dari masing-masing mereka, kepribadian yg rasanya sulit diubah, serta sifat-sifat yang sudah melekat (no matter how hard they try to hide it).
Bisa jadi aku jeles, bisa juga karna aku sudah lama meninggalkan kebiasaan bergantung pada orang, atau aku hanya kangen pada teman-teman baikku di Canbie sana. Hwell...semua berhak nebak, gitu juga aku, tapi aku sungguh masih tidak bisa habis pikir "apa-iya-yg-namanya-temenan-harus-sampe-segitunya".
Aku punya banyak teman, laki-laki, perempuan. Loyalitasku? silahkan diuji. Kami suka bertelpon-telpon ria, saling bercerita, nraktir kalau ultah, kongkow kalo ada waktu, marah klo dicuekin, protes klo sms ga dibales, juga jeles kalau sang sahabat mulai sibuk dg yg lain. Tapi memang, aku tidak pernah saling memanjakan satu sama lain scr materiil. Dan bbrp waktu lalu, ketika aku melihat Budi dg santainya bayarin tasnya-si Sari-yg-ga-murahdi kasir Centro, aku shock! Hello? apa aku yg baru turun gunung ya?
Tidak adil! - itu kataku (lebai MODE ON)
Berlebihan! - aku aja mungkin yg jeles
Emang harus gitu ya? - mungkin saja, aku sendiri ga tau jawabannya
SO ???
*pic is taken from http://www.germes-online.com/direct/dbimage/50271787/Handbag.jpg

